Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Sayang, bisakah kau melihat kita bagai sepasang burung layang-layang, Terbang di langit yang tak berujung? Bisakah kau melihat kita bagai kupu-kupu Di taman musim semi yang harum dengan bunga-bunga kehidupan?
Kecuali beberapa individu yang ambisius, sebagian besar dari kita hanya ingin hidup sederhana. Dalam kesederhanaan, hidup terasa luas dengan sukacita sederhana dan persahabatan yang hangat.Saya akan menuntunmu melalui sebuah mimpi sederhana, kasihku. Saat warna pada busana kita belum pudar, Di kala aku terhanyut dalam matamu yang dalam selembut beludru... Kukirimkan lagu-lagu cinta ke malam yang kelam Atau hanya gemeresik daun seperti di masa lalu Jalan pedesaan itu sangat bersih berkilau, Kan kupasang untukmu jendela yang terang Diarimu bertutur lirih tentang “kemurnian masa sekolah”!!Tetes hujan berdenting seperti sapaan seseorang... Saya menunduk menatap trotoar, ubinnya pun telah memudar. Musik Beethoven bergema melintasi jiwaku yang layu, Mengangkat jiwaku melambung dan membuatku menangis... Haruskah engkau mengejar awan-awan yang tinggi, Dan dengan sendu menyatu dengan dunia romantis? Kan kuhiasi engkau dengan sekuntum mawar Pergilah dengan anggun, kupu-kupu emasku yang baru terjaga...Kita kembali ke kota di malam hari, Sepi menyusup di antara langkah-langkah yang sibuk. Bagaimana jika suatu hari kau beruban atau telah tiada? Siapa yang akan menerangi musim gugur dengan cahaya lilin perak? Siapa yang akan meredakan derita dengan menyalakan kerinduan baru? Di kejauhan, musim semi tiba Pernahkah mimpimu terwujud? Di danau Hoàn Kiếm, hujan turun gerimis. Kita berjalan bersama ke negeri cinta murni Namun di batin kita telah ada bayang keraguan!Langit Januari membawa hujan deras Angin mengirimkan tanda sekali dalam satu dasawarsa. Langkahku bergema dalam duka nan sunyi; Menghindari masa depan layaknya orang yang gentar pada cahaya! Saya akan menuntunmu melalui mimpi sederhana, kasihku Tidakkah kau sadari jiwa kita berharga bagaikan permata?Sebuah rumah kecil yang hangat, di mana aroma musim semi memenuhi udara. Lalu datang musim panas penuh harapan, musim gugur yang gemilang, dan musim dingin yang memuaskan di dekat perapian yang menyala… semuanya memberi gambaran jelas tentang sifat kehidupan yang terus berubah dan keanekaragaman alam semesta. Dengan hati yang tenang, senyum kita selamanya muda dan bening.Rumah kecilku yang nyaman bertengger di lereng bukit, Angin sejuk dan awan lembut melayang di langit. Bunga-bunga harum dan rumput hijau menyegarkan udara. Pohon pinus bernyanyi dengan indah mengikuti tarian dewi bulan nan cantik.Kupu-kupu bermain di taman harum, bunga menghiasi dahan lembut, merah muda, kuning, merah tua, ungu, dan peach. Oh, begitu harum, hingga ke Surga!Bulan bersinar cerah di puncak yang anggun, Membawa lagu damai di udara. Melodi emas melayang bersama angin Menuju langit jernih, begitu menenangkan.Jalan hutan, hangat seperti pelukan Menyertai langkah anggunmu membawa hari-hari penuh mimpi. Di kejauhan, lautan bernyanyi dalam puisi, Bernyanyi bersamaku di malam fantasi ini.Di musim semi, bunga liar menutupi gunung, Di musim panas, jangkrik bernyanyi dalam mimpi manis, Di musim gugur, daun berwarna kenari menari di luar jendela, Di musim dingin, api menyanyi riang di perapian hangat.Keempat musim, bunga mekar di hatiku. Di mana-mana awan mendekat menyapa. Teman-teman yang penuh kasih membuat hati semakin sayang. Satwa dan burung berbaur seperti kawan dekat!Keluarkan kecapi berbentuk bulan, Mainkan nada musik yang gembira. Jiwa melayang bersama nada cinta, Hati gembira mengikuti irama musik.Tra la la fa la Fa la la tra la Tra la la fa la Fa la la tra laMusim semi membawa kehangatan bagi semua makhluk, termasuk semua hati yang kesepian dan mereka yang hidup dalam kesedihan. Musim semi tercermin dalam ribuan bunga yang bermekaran dan senyum damai Sang Ilahi Yang penuh welas asih. “Kau kembali untuk mengagumi bunga mawar, Memandang ke arah Buddha, Senyum-Nya meliputi segalanya. Semua bunga bersinar dengan kedatangan musim semi. Tanpa beban dan puas dengan semua gosip duniawi.”Musim semi perlahan kembali, Aromanya menghangatkan hati, membuat jiwa tanpa beban. Musim semi datang memperindah hidup. “Bunga persik tahun lalu masih menggoda angin musim dingin.”Kau kembali untuk mengagumi bunga mawar, Memandang ke arah Buddha, Senyum-Nya meliputi segalanya. Semua bunga bersinar dengan kedatangan musim semi. Tanpa beban dan puas dengan semua gosip duniawi.Tangan terkatup dalam bisikan doa Ringan hati dan santai, untuk bertahan dari kritik Ke mana air mengalir, ribuan tahun yang lalu? Langit biru, awan putih... tak peduli pada kesedihan hidupMusim semi kembali, bersama bulan dan tahun Dengan wangi kebajikan yang memercikkan dunia Kembalinya musim semi membawa semua kebahagiaan Memberikan kegembiraan yang melimpah pada umat manusiaKetika kita jatuh cinta dan dua hati berdenyut menjadi satu, seluruh dunia menjadi tak berarti. Yang ada hanya melodi dua jiwa yang selaras sempurna, mengalir lembut bagai riak sungai kecil, laksana bunga musim semi, dan berkilau layaknya bulan dan bintang.Sayang, bisakah kau melihat kita bagai sepasang burung layang-layang, Terbang di langit yang tak berujung? Bisakah kau melihat kita bagai kupu-kupu Di taman musim semi yang harum dengan bunga-bunga kehidupan? Bisakah kau melihat kita bagai sungai, Mengalir jauh menuju laut yang luas?Karena kita jatuh cinta, Bumi begitu memikat, Karena kita jatuh cinta, dunia menjadi penuh kebahagiaan! Maka jiwa kita akan berkembang, pasti. Berjalan di tengah kegaduhan dan penderitaan seolah di Surga, Hati kita tak akan gemetar meski badai mengamuk.










